Prospek Emas Masih Cerah di Tengah Perlambatan Ekonomi AS

Prospek Emas Masih Cerah di Tengah Perlambatan Ekonomi AS

Jakarta, landbank.co.id – Harga emas dunia menunjukkan kecenderungan melanjutkan penguatan pada perdagangan awal pekan, didorong kombinasi sentimen fundamental global dan sinyal teknikal yang masih mendukung tren kenaikan.

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menyebut lonjakan harga emas dalam beberapa waktu terakhir dipicu oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat serta meningkatnya tekanan inflasi.

Data terbaru Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE), indikator inflasi utama acuan Federal Reserve, menunjukkan inflasi telah melampaui level 3 persen. Kondisi tersebut memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.

Pada akhir pekan lalu, harga emas tercatat naik lebih dari 1 persen dan diperdagangkan di sekitar 5.065 dolar AS per troy ounce, setelah sempat menyentuh level terendah harian di kisaran 4.981 dolar AS, menandakan rebound yang cukup kuat.

Ketidakpastian Global Dorong Safe Haven

Memasuki sesi perdagangan Asia, harga emas masih mempertahankan momentum positif dengan bergerak mendekati level 5.095 dolar AS per troy ounce.

Kenaikan ini turut dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberlakukan tarif impor baru yang memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik perdagangan internasional.

Kebijakan tersebut meningkatkan minat investor terhadap aset safe-haven seperti emas, yang secara historis cenderung diminati saat kondisi ekonomi dan geopolitik tidak stabil.

Selain itu, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran juga turut memperkuat permintaan emas, meski peluang negosiasi antar kedua negara sedikit menahan laju kenaikan harga agar tidak terlalu tajam.

Perlambatan Ekonomi AS Jadi Faktor Kunci

Dari sisi makroekonomi, perlambatan ekonomi Amerika Serikat menjadi katalis penting bagi penguatan emas. Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal IV 2025 tercatat hanya tumbuh 1,4 persen secara tahunan, jauh lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 4,4 persen sekaligus berada di bawah ekspektasi pasar.

Kondisi ini menimbulkan spekulasi bahwa kebijakan moneter Federal Reserve ke depan dapat berubah, di tengah dilema antara menekan inflasi dan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.

Situasi tersebut menciptakan ketidakpastian pasar yang pada akhirnya memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.

Sinyal Teknikal Masih Bullish

Menurut Andy Nugraha, indikator teknikal turut memperkuat prospek kenaikan harga emas dalam jangka pendek.

Pola candlestick menunjukkan dominasi tekanan beli, sementara indikator Moving Average menandakan tren naik masih solid dan belum memperlihatkan tanda pembalikan arah. Selama harga mampu bertahan di atas area support penting, peluang kenaikan dinilai masih terbuka.

Dupoin Futures memproyeksikan apabila momentum bullish tetap terjaga, harga emas berpotensi menguji level resistance berikutnya di sekitar 5.220 dolar AS per troy ounce.

Namun demikian, risiko koreksi tetap perlu diwaspadai, terutama akibat aksi ambil untung maupun perubahan sentimen pasar. Level support terdekat diperkirakan berada di kisaran 5.004 dolar AS yang berpotensi menjadi area penopang harga.

Prospek Jangka Pendek

Secara keseluruhan, prospek emas dalam jangka pendek masih menunjukkan kecenderungan bullish, didukung inflasi tinggi, perlambatan ekonomi global, serta ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.

Emas tetap menjadi pilihan utama investor sebagai instrumen perlindungan nilai di tengah kondisi pasar yang tidak menentu. Meski demikian, pelaku pasar disarankan tetap memantau perkembangan data ekonomi Amerika Serikat serta arah kebijakan Federal Reserve yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga selanjutnya.

(*)