Jakarta, landbank.co.id – Knight Frank Indonesia menilai pasar kondominium Jakarta masih berada dalam kondisi fluktuatif dan belum sepenuhnya stabil hingga akhir tahun 2025.
Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menyampaikan bahwa pasar kondominium Jakarta saat ini menunjukkan pergeseran struktur permintaan yang semakin didorong oleh kebutuhan hunian riil (end-user driven demand).
Ia menuturkan, permintaan tersebut terutama datang dari segmen unit luxury atau menengah, terintegrasi dengan transportasi publik, serta memiliki tingkat harga yang relatif terjangkau.
“Pasar kondominium Jakarta masih cukup dinamis dan belum sepenuhnya stabil. Kondisi ini membuat sejumlah proyek yang sebelumnya sempat tertahan belum kembali merilis produk hingga akhir 2025,” ujar Willson dalam keterangannya.
Menurut Willson, permintaan kondominium saat ini terutama berasal dari unit berukuran menengah yang terintegrasi dengan transportasi publik, memiliki aksesibilitas tinggi, serta ditawarkan dengan harga yang relatif terjangkau. Faktor tersebut menjadi pertimbangan utama bagi konsumen dalam mengambil keputusan pembelian.
“Pengembang perlu lebih cermat membaca arah kebutuhan pasar agar pertumbuhan transaksi dapat berlangsung lebih sehat dan berkelanjutan,” tutur Willson.
Willson juga menuturkan, keseimbangan antara harga dan kualitas produk menjadi kunci utama dalam menggerakkan performa pasar kondominium Jakarta.
“Pengembangan kondominium harus lebih memahami kebutuhan pasar yang masih tumbuh saat ini. Keterjangkauan harga yang dibarengi kualitas produk menjadi katalis utama dalam mendorong pemulihan pasar,” katanya.
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, Willson menilai pasar kondominium Jakarta mulai memperlihatkan sinyal pemulihan. Menjelang akhir 2025, tercatat dua proyek baru yang telah melakukan serah terima unit, yang dinilai mampu meningkatkan kepercayaan pasar.
Secara umum, pasar kondominium Jakarta masih memperlihatkan dua sisi yang berbeda. Minat pembeli di segmen menengah ke bawah masih cenderung membandingkan kondominium dengan rumah tapak, terutama dari sisi harga dan luas bangunan. Sementara itu, segmen premium dinilai relatif stabil dengan pertumbuhan permintaan berkisar 1–2 persen dalam tiga tahun terakhir.
Willson optimistis, kinerja pasar kondominium Jakarta ke depan akan membaik seiring dengan perbaikan daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian, ia mengingatkan agar pelaku industri tetap berhati-hati dan adaptif terhadap perubahan preferensi konsumen.
“Pemulihan pasar akan sangat bergantung pada strategi pengembangan yang tepat sasaran dan kemampuan membaca kebutuhan riil masyarakat,” pungkasnya.
Sebagai informasi, berdasarkan pembaruan data Knight Frank Indonesia, total pasokan kondominium Jakarta meningkat menjadi 248.485 unit, seiring dengan rampungnya dua proyek baru di kawasan non-CBD. Dari jumlah tersebut, tingkat penjualan kumulatif tercatat mencapai 96,2 persen.
Penjualan tertinggi masih didominasi oleh segmen middle dan upper-middle, yang masing-masing berkontribusi sebesar 30 persen dan 38 persen dari total penjualan.
Sementara itu, rata-rata tingkat penjualan stok baru berada di kisaran 59,6 persen, di tengah 3.982 unit yang saat ini masih aktif dipasarkan.
Dari sisi harga, rata-rata harga unit baru mengalami kenaikan sekitar 2 persen secara tahunan (year on year/yoy), mencerminkan adanya penyesuaian pasar di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
(*)