Jakarta, landbank.co.id – Harga emas dunia atau XAU/USD diprediksi kembali melesat tajam pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2026.
Analisis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha menuturkan, kenaikan harga emas XAU/USD pada hari ini didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik global serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Kombinasi sentimen safe haven dan penguatan teknikal membuat logam mulia ini kembali menjadi incaran investor,” ujar Andy dalam keterangan resminya yang diterima landbank.co.id Selasa, 6 Januari 2026.
Andy Nugraha juga menyampaikan bahwa sinyal penguatan tren emas saat ini terlihat semakin solid. Pola candlestick yang terbentuk serta arah indikator Moving Average yang kembali mengarah naik menunjukkan dominasi tekanan beli di pasar.
“Struktur harga saat ini mengindikasikan momentum bullish yang masih terjaga. Selama tidak terjadi pembalikan tren yang signifikan, peluang kenaikan lanjutan masih terbuka,” ujar Andy.
Andy memproyeksikan bahwa jika sentimen positif tetap berlanjut, harga emas berpotensi melanjutkan reli menuju area USD 4.520 dalam jangka pendek. Meski demikian, risiko koreksi tetap perlu diantisipasi.
“Apabila harga gagal mempertahankan momentum penguatan, maka area USD 4.397 diperkirakan menjadi zona koreksi terdekat,” terangnya.
Sebagai informasi, pada sesi perdagangan Asia, Selasa, 6 Januari 2026, XAU/USD sempat bergerak stabil di sekitar USD 4.440 dan mencetak level tertinggi dalam sepekan terakhir.
Selain dari sisi teknikal, faktor geopolitik juga menjadi pemicu naiknya harga emas XAU/USD.
“Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya oleh pasukan Amerika Serikat menjadi pemicu utama ketidakpastian baru di pasar global,” ungkap Andy Nugraha seperti dikutip dalam keterangan resminya yang diterima landbank.co.id Selasa, 6 Januari 2026.
Selain faktor geopolitik dan teknikal, Andy juga menyampaikan, sentimen positif terhadap emas juga diperkuat oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.
Risalah pertemuan FOMC terbaru menunjukkan bahwa mayoritas pejabat bank sentral AS masih membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan, seiring tren inflasi yang terus melandai.
Kebijakan suku bunga yang lebih rendah dinilai menguntungkan harga emas, karena menurunkan biaya peluang bagi investor untuk memegang aset tanpa imbal hasil.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Desember. Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat Dolar AS dan memberi tekanan jangka pendek pada emas. Namun secara keseluruhan, dengan dukungan sentimen safe haven yang kuat serta sinyal teknikal yang positif, prospek harga emas dunia masih cenderung menguat dalam waktu dekat.
(*)