Oleh karena faktor utama ini, margin laba kotor dari pilar land development & property menurun dari 63 persen pada 2022 menjadi 56 persen pada 2023.
Selain itu, pilar infrastruktur mengalami penurunan margin laba kotor dari 42 persen pada 2022 menjadi 37 persen pada 2023, terutama karena subsegmen listrik dan jasa dan pemeliharaan.
Subsegmen listrik mengalami penurunan margin laba kotor dari 33 persen pada 2022 menjadi 30 persen pada 2023 karena lebih banyak penjualan tenaga listrik di Kendal yang memiliki marjin yang lebih rendah dibandingkan dengan penjualan di Cikarang, disamping tahun 2022 terdapat penerimaan atas tagihan tahun 2021 yang dibukukan sebagai pendapatan 2022 sementara bebannya telah dibukukan di tahun 2021.
Selain itu, subsegmen jasa dan pemeliharaan mengalami penurunan margin laba kotor dari 54 persen pada 2022 menjadi 48 persen pada 2023 karena peningkatan biaya depresiasi dari Wastewater Treatment Plant (WWTP) di Kendal, yang mulai beroperasi pada akhir 2022.
Sementara itu, margin laba kotor dari pilar leisure & hospitality KIJA meningkat dari 34 persen pada 2022 menjadi 35 persen pada 2023.
Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp528,6 miliar pada tahun 2023, dibandingkan dengan Rp41,0 miliar pada tahun 2022.
Faktor utama dari peningkatan ini adalah kinerja keseluruhan Perusahaan yang lebih baik, dan dampak pergerakan kurs valuta asing (forex) karena Perusahaan mencatatkan kerugian bersih atas forex, reklasifikasi cadangan translasi mata uang asing, dan derivatif (call spread) secara keseluruhan sebesar Rp2,2 miliar pada 2023, dibandingkan dengan kerugian valuta asing sebesar Rp404,0 miliar pada 2022.
EBITDA KIJA untuk tahun 2023 tercatat sebesar Rp1,25 triliun, mengalami peningkatan sebesar 15 persen dibandingkan dengan tahun 2022 yang tercatat sebesar Rp1,08 triliun.
Per 31 Desember 2023, total kas secara konsolidasi Jababeka tercatat sebesar Rp1,1 triliun, dan kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya pada akhir tahun 2023 tercatat sebesar Rp261,9 miliar, termasuk dana cadangan bunga dan pokok sebesar Rp 115,1 miliar yang disyaratkan dalam persyaratan pinjaman Mandiri.
(*)